Maman: BUZZ!
Freden: Hoi! Ada apa men?!
Maman: Yang berangkat ke cicenang entar sapa aja den?
Freden: Aku, Aldi, Sangap, Bondon, dan lain-lain
Freden: Kenapa men? mau ikut?
Maman: Kalo ditambah Gw, Ria, ama Alam boleh ga?
Freden: Wah, boleh sekali men. sangat dianjurkan.
Maman: Hwoke
Maman: Berangkat Jam brapa ntar?
Freden: Jam 9-an
Maman : Sip tengkyu
Demikianlah percakapan kami sebelum berangkat menuju Cicenang (daerah perkebunan teh di dekat Ciater). Hari Sabtu ada materi navigasi darat untuk siswa gladi mula, jadi kami harus mempersiapkan poin-poin koordinat dan basecamp buat panitia sebelum acara berlangsung. Acara ini berlangsung dari Sabtu sampai Minggu. Berhubung aku cuma bisa ikut sampai hari Sabtu, maka aku ikut tim advance yang berangkat hari Jumat malam [yang katanya di atas adalah jam 9-an malem].
:: WAKTU BERPUTAR ::
20.30 : Aku dan Ria datang ke SEL
21.00 : presentasi GL ORAD (menunggu)
21.30 : presentasi GL ORAD (menunggu)
22.00 : masih presentasi GL ORAD (menunggu)
22.30 : masih juga presentasi GL ORAD (menunggu)
23.00 : presentasi selesai (akhirnya), dilanjutkan dengan briefing buat materi navigasi besok (jiaaaaah)
23.30 : briefing masih berlanjut (menunggu dengan mata sayu-sayu)
00.00 : briefing masih heboh (menunggu sambil telentang)
00.30 : briefing selesai (akhirnyaaaa), dilanjutkan dengan Packing barang-barang (Oh My Gooosh! nonton dulu deh)
01.00 : masih Packing (Nonton "Garuda di dadaku" dulu sambil menunggu keberangkatan)
01.30 : "yuuk berangkat yuuuk!", kata mereka (aku Sedang asik nonton, "bentar lagi! habis ini selesei kok!")
02.00 : AKHIRNYA, barang siap dibawa... "Garuda di dadaku" pun beres ditonton. Berangkatlah kita.
Dalam hati aku berpikir emang hati punya otak, mikir dooong lo?!, ternyata yang dimaksud berangkat jam 9-an itu adalah jam 2-dini hari. Berarti imbuhan -an pada keterangan waktu menunjukkan selisih waktu ke depan sebanyak 5 Jam. WOW wooow!!! AMAZING! AMAJING!!! [gak penting banget mikirnya, RED]
:: SUBUH DI WARUNG CICENANG ::
Kami berhenti di warung dan memesan nasi goreng. Sambil menunggu nasi goreng matang, Yudhi sibuk menjelaskan di mana letak rasi-bintang-alas-teko yang sering digembor-gemborkannya.
Setelah kenyang, kami berdempet-dempetan 8 orang dalam lebar saung yang 2 meter saja untuk melungker tidur dan menghindari kedinginan.
"Yak, kita besok foto-foto sama sunrise cicenang yuuuk!", kata saya kepada si Ria
"Hayuuk, yang kayak dulu itu... keren banget!", kata si Ria.
Zzz..z.z.z..z.z..
Sekitar jam lima lebih saya terbangun melihat lembayung fajar menjelang sunrise. "Yaaaaaaaaak, sunrise yaaaaak! keren bangeeeeeeeet!", teriak saya membangunkan siapa saja yang mau bangun.
"Iya maaaan, kereeeen!", jawab si Ria.
Percakapan selesai hanya sampai di situ. Kami tidak ada yang bergerak dari sleeping bag apalagi boro-boro mengeluarkan kamera. Entah bagaimana tiba-tiba saya sudah tidur lagi, begitu pula yang lainnya.
Matahari menyingsing, kakiku kepanasan, mau ga mau aku pun terbangun, liat jam, gosok-gosok mata, dan teriaaak, jeng jeng jeeeeeng!!!
"HOOI, Banguuun Hooi! udah jam tujuuuh!!! kita belom masang poin!!!", Bangunlah semua orang-orang, baik yang mau bangun maupun yang terpaksa harus bangun. Petualangan dimulai!!!
-hadooh-